Sementara itu, konsumsi rumah tangga yang terkontraksi secara kuartalan (qtq) mencakup kelompok makanan dan minuman selain restoran, pakaian dan alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, restoran dan hotel, serta kelompok lainnya.

Secara struktur, konsumsi rumah tangga masih memberikan kontribusi terbesar terhadap total produk domestik bruto (PDB), yakni sebesar 53,14 persen pada triwulan III 2025.

 

Jika dilihat dari sumber pertumbuhan, konsumsi rumah tangga juga tetap menjadi pendorong utama perekonomian dengan kontribusi sebesar 2,54 persen pada periode yang sama.

Menjawab pertanyaan mengenai langkah yang dibutuhkan agar konsumsi rumah tangga dapat tumbuh di atas 5 persen, Edy menjelaskan bahwa kinerjanya sangat dipengaruhi oleh pendapatan dan optimisme masyarakat untuk melakukan konsumsi.

“Konsumsi rumah tangga sangat bergantung pada pendapatan dan optimisme masyarakat. Jika ekonomi tumbuh lebih tinggi dan berdampak pada peningkatan pendapatan rumah tangga, maka hal ini akan mengakselerasi pertumbuhan konsumsi,” kata Edy.

Menurutnya, pendapatan yang dapat dibelanjakan (disposable income) menjadi faktor kunci. Ketika disposable income meningkat, rumah tangga cenderung meningkatkan konsumsinya.

Selain itu, program-program pemerintah yang dapat merangsang konsumsi, seperti bantuan sosial dan insentif lainnya, juga berperan penting dalam menjaga daya beli masyarakat.



Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BPS: Konsumsi RT tumbuh 4,89 persen, disokong transportasi-komunikasi

 



Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026