“Gempa kemarin rata-rata di bawah magnitudo 3,5. Itu seperti kedutan kecil, energinya keluar sedikit demi sedikit agar tidak menumpuk jadi gempa besar,” katanya.
Ia mengungkap, gempa utama pada 20 September 2025 berkekuatan 3,2 magnitudo dengan 43 kali gempa susulan berintensitas lebih kecil. Fenomena ini tergolong wajar di kawasan yang aktif secara geologis.
Budi juga menyinggung catatan sejarah gempa di wilayah tersebut, termasuk gempa berkekuatan 4,8 magnitudo pada 2012 di Cibubian, yang mengakibatkan kerusakan puluhan rumah warga.
“Kalau dilihat dari karakteristiknya, kawasan ini memang sudah merupakan jalur sesar aktif. Karena itu masyarakat harus terbiasa dan tidak panik ketika gempa terjadi,” ujarnya menambahkan.
BMKG menegaskan, gempa tektonik di sekitar Gunung Salak tidak terkait dengan aktivitas vulkanik maupun operasional panas bumi. Semua data menunjukkan sumber energi berasal dari pergeseran sesar aktif.
Pepen Supendi mengingatkan, masyarakat perlu membiasakan diri mengikuti panduan keselamatan seperti tidak panik, mencari tempat terbuka, serta memperhatikan struktur bangunan di sekitarnya.
Pemerintah Kabupaten Bogor melalui BPBD bekerja sama dengan BMKG dan Star Energy terus melakukan sosialisasi dan edukasi mitigasi bencana agar masyarakat memahami tindakan tepat sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BMKG ungkap pemicu gempa beruntun di Gunung Salak
