Kesucian pribadi Ali ini juga menjadi bagian dari keyakinan umat Islam.
Maka dari itu, tak ayal fenomena burung yang enggan hinggap di Masjid Ali pun menjadi bagian dari pesona spiritual yang disematkan. Ini menjadi satu dari banyak kisah yang diwariskan dalam tradisi masyarakat Muslim.
Jejak salat Id Sayyidina Ali
Masjid Ali bin Abi Thalib juga menyimpan jejak sejarah yang panjang.
Tempat ini dipercaya sebagai lokasi Sayyidina Ali bin Abi Thalib melaksanakan Shalat Idul Fitri, meneladani Rasulullah SAW yang biasa menunaikan shalat Id di lapangan terbuka.
"Dulu di sini masih tanah lapang. Sayyidina Ali shalat Id di tempat ini mengikuti sunnah Rasulullah," Uuar Kosim yang sedang bertugas memandu rombongan jamaah Program UMRAH untuk Sahabat Adira.
Sejumlah lokasi lain yang digunakan shalat Id pada masa Nabi Muhammad, kemudian juga diabadikan menjadi masjid, seperti Masjid Ghamamah, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq, hingga Masjid Umar bin Khattab.
Kemudian dari segi pembangunannya, Masjid Ali sendiri diperkirakan dibangun pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (93-97 H), lalu direnovasi oleh Gubernur Madinah Dhaigham al-Manshuri pada 881 H.
Renovasi berikutnya dilakukan pada masa Sultan Abdul Majid (1269 H), dan pembaruan besar terakhir berlangsung di masa Raja Fahd (1411 H).
Renovasi dilakukan untuk memperluas area masjid dan menambahkan menara ramping yang kini menjadi ciri khasnya.
Kesederhanaan yang menenteramkan
Salah satu jamaah umrah dari Program UMRAH untuk Sahabat Adira, Agus Sugiarto, mengaku memang merasakan ketenangan tersendiri saat memasuki Masjid Ali.
Tatkala melangkah ke dalam, ia merasakan betul suasana hening.
Di dalamnya, Masjid Ali mempunyai dinding bercat putih berpadu dengan motif bata merah. Tak ada ukiran rumit, tak ada ornamen megah.
