Pembimbing umrah (muthawif) asal Indonesia, Ustaz Ahmad Kosim, menuturkan bahwa masyarakat Madinah memang sejak lama sudah memperhatikan fenomena itu.
"Coba lihat, bersih sekali. Tidak ada kotoran burung sedikit pun dibanding masjid lain di sekitarnya," ujarnya, sambil menunjuk ke arah kubah Masjid Ali.
Padahal, beberapa meter di belakang masjid, ratusan burung merpati beterbangan di lapangan terbuka.
Kebersihan kubah itu diyakini sebagai simbol kesucian sosok Ali bin Abi Thalib.
"Sayyidina Ali itu orang yang sangat suci. Dari lahir sampai wafat tidak pernah melihat auratnya sendiri. Karena itu, setiap kali disebut namanya, kita mendoakannya dengan karramallahu wajhah, semoga Allah memuliakan wajahnya," ucap Kosim.
Keyakinan itu pun hidup sebagai bentuk penghormatan kepada Ali.
Keistimewaan yang dikenang
Sebagai khalifah keempat dalam Khulafaur Rasyidin, Ali bin Abi Thalib dikenal bukan hanya karena keberaniannya di medan perang, tapi juga karena kebijaksanaannya.
Ia sendiri merupakan sepupu, sekaligus menantu Rasulullah SAW, suami dari Sayyidah Fatimah az-Zahra, serta ayah dari Hasan dan Husain.
Dalam banyak riwayat, Ali digambarkan sebagai sosok yang rendah hati dan zuhud, meski hidup di lingkar kekuasaan.
Dirinya kerap menolak kemewahan, memilih hidup sederhana di rumah kecilnya di Madinah.
Dalam kepemimpinannya, Ali menempatkan keadilan dan kejujuran di atas segalanya, bahkan ketika hal itu harus berhadapan dengan kepentingan politik pada zamannya.
