Indramayu (ANTARA) - Perempuan berbaju hijau itu menuntun sepeda tuanya perlahan di jalan becek bekas hujan. Dua jeriken kosong bergoyang di sisi boncengan, beradu dengan spakbor karatan.
Derap langkahnya konstan, sesekali tatapannya menelisik ke dalam tas tangan guna memastikan apakah uangnya cukup untuk membeli perbekalan.
Tempat yang dituju bukanlah pasar, melainkan stasiun bahan bakar umum nelayan (SPBUN) di Indramayu, Jawa Barat, tepatnya di Desa Limbangan.
Waktu menunjukkan pukul 13.28 WIB, pada Selasa (28/10). Langit di Desa Limbangan kala itu menggantung kelabu dan hawa lembap terasa menempel di kulit.
Di halaman SPBUN, seorang pegawai tampak fokus pada pekerjaannya. Tangannya menggenggam nosel pompa, kemudian mengisi beberapa jeriken yang tersusun di lantai semen.

“Sekarang lebih gampang. Dulu sebelum ada SPBUN, beli solar harus jauh-jauh, jalan kaki ratusan meter untuk beli di pengisian umum,” kata Sarti (39) kepada ANTARA sambil menyeka peluh di keningnya.
Ia menuturkan di desa ini perempuan menjadi garda depan karena mereka yang mengisi, mengangkut dan mengantar bahan bakar minyak (BBM) ke rumah.
Suaminya yang berprofesi sebagai nelayan, tenaganya sudah terkuras setelah seharian melaut. Sehingga dirinyalah yang harus membeli solar di SPBUN.
Sejumput senyum tergurat di wajahnya seusai jeriken terisi penuh. Ia perlahan meninggalkan halaman SPBUN, sementara roda sepedanya menciptakan jejak di tanah yang basah.
