Sebaliknya, Partai Republik berpendapat bahwa versi resolusi berkelanjutan mereka, yang bertujuan mencegah penutupan pemerintah, merupakan proposal "bersih" yang mempertahankan tingkat pengeluaran saat ini sekaligus memberikan waktu tambahan untuk menegosiasikan rancangan undang-undang alokasi anggaran penuh untuk Tahun Anggaran 2025.
Menambahkan dari Anadolu, Wakil Presiden AS JD Vance memprediksi bahwa penutupan Pemerintah AS akan berlangsung singkat, meskipun hanya ada sedikit bukti bahwa Gedung Putih maupun Kongres dari Partai Demokrat bersedia mengalah.
Vance menyampaikan komentar itu satu jam setelah Senat dari Partai Demokrat kembali menolak proposal Partai Republik, yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat, untuk mendanai pemerintah hingga akhir November.
Hanya tiga anggota Demokrat yang mendukung proposal tersebut, jauh di bawah total yang dibutuhkan untuk melewati ambang batas 60 suara penting untuk meloloskan undang-undang di majelis tersebut.
Meskipun penutupan pemerintah tak secara otomatis mengakibatkan krisis ekonomi yang parah, hal itu menciptakan gangguan besar bagi banyak aspek kehidupan Amerika.
Banyak pegawai federal akan dirumahkan, atau dipaksa bekerja tanpa bayaran, sementara yang lain akan ditempatkan pada cuti wajib hingga anggaran baru disetujui.
Presiden AS Donald Trump telah menambahkan ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), dan Gedung Putih menolak untuk merinci apakah PHK tersebut bersifat jangka pendek atau permanen.
Terkait apakah rupiah bisa menyentuh Rp15 ribu per dolar AS akibat sentimen ini, Taufan menilai berpotensi itu masih terbatas.
“Peluang untuk kembali ke level Rp15 ribuan dalam waktu dekat masih terbatas, kecuali terjadi pelemahan yang lebih dalam pada dolar AS seiring ketidakpastian politik di Washington yang berkepanjangan,” ungkap dia.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah menguat seiring kepercayaan pasar terhadap fiskal AS melemah
