Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru melemah ke level Rp16.468 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.457 per dolar AS.
Pada Jumat (12/9), nilai tukar rupiah disebut akan banyak dipengaruhi rilis data inflasi AS, khususnya Core CPI yang diperkirakan naik 0,3 persen month to month.
Apabila hasil Core CPI sesuai atau lebih rendah dari ekspektasi, lanjut Josua, pasar akan melihat peluang pemangkasan suku bunga The Fed tetap terbuka. Dengan begitu, dolar AS bisa melemah dan memberi ruang bagi penguatan rupiah.
Namun, jika inflasi lebih tinggi dari perkiraan, maka dolar berpotensi menguat kembali dan bakal menekan rupiah.
Meninjau sentimen dari dalam negeri untuk rupiah pada Jumat (12/9), dia menilai fokus pasar masih pada implementasi kebijakan penempatan dana pemerintah ke perbankan, yang akan berpengaruh pada persepsi investor terkait stabilitas fiskal dan efektivitas stimulus.
“Dengan mempertimbangkan faktor global dan domestik, rupiah berpotensi bergerak fluktuatif. Bila inflasi AS sesuai perkiraan, rupiah relatif stabil dengan kecenderungan menguat tipis. Namun bila inflasi lebih tinggi, rupiah bisa kembali tertekan,” ujar dia.
Untuk perdagangan besok, rupiah diproyeksikan berada di kisaran Rp16.420–Rp16.500 per dolar AS dengan kecenderungan stabil di tengah kehati-hatian pasar menunggu kepastian arah kebijakan The Fed.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Rupiah menguat dipengaruhi rencana pemerintah alirkan dana ke bank
