Bandung (ANTARA) - Peneliti Ahli Utama Konservasi Keanekaragaman Hayati Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Prof Hendra Gunawan menilai terus tergerusnya hutan di Pulau Jawa menjadi alasan peningkatan konflik antara macan tutul (panthera pardus melas) dengan manusia.
"Data yang saya kumpulkan, sejak tahun 2000 hingga 2024, jumlah kasus konflik macan tutul-manusia meningkat signifikan, baik frekuensi kejadiannya maupun Lokasi kejadiannya. Di mana sudah ada 26 Kabupaten yang macan tutulnya pernah berkonflik dengan manusia," kata Hendra saat dikonfirmasi Antara Jabar, Selasa.
Baca juga: Macan tutul lepas, Lembang Park and Zoo ditutup
Baca juga: Kronologi macan tutul lepas dari kandang Lembang Park and Zoo
Hendra mengatakan jumlah macan tutul Jawa belum dapat diketahui pasti mengingat masih dilakukannya survey Javan Leopard Wide Survey (JLWS) oleh Tim Kementerian Kehutanan, SINTAS dan FORMATA, dengan pendanaan dari Yayasan DJarum Foundation namun ada kecenderungan menurun dengan luasan habitat yang juga menurun kualitasnya atau hilang.
Penurunan kualitas atau hilangnya habitat macan tutul ini terjadi dengan meningkatnya intensitas fragmentasi habitat (Habitat fragmentation), yaitu pemotongan habitat-habitat oleh pembangunan jalan raya atau jalan tol, penggenangan waduk dan pembangunan permukiman, juga ekspansi pertanian di Kawasan hutan yang terjadi di berbagai daerah.
Kemudian, kawasan hutan yang digarap menjadi lahan pertanian, baik secara monokultur maupun secara agroforestri, hingga menyebabkan perubahan struktur dan komposisi vegetasi hutan yang berpengaruh terhadap ketersediaan satwa mangsa macan tutul seperti babi hutan, kijang, kancil, monyet, lutung, owa, surili dan hewan herbivora lainnya.
"Fenomena semakin sering dan dan banyaknya kasus macan tutul memangsa ternak atau masuk permukiman seperti yang terakhir di Kuningan, juga menjadi indikasi dari berkurangnya luasan habitat dan menurunnya populasi satwa mangsa di habitat tersebut yang dapat menyebabkan macan tutul juga mengalami penyusutan populasi," ucapnya.
Kebutuhan luasan habitat untuk jelajah harian (home range) seekor macan tutul, lanjut dia, sangat bervariasi tergantung pada kekayaan habitatnya akan satwa mangsa, di mana semakin melimpah jumlah satwa mangsa, biasanya semakin kecil home range macan tutul.
Untuk kondisi hutan-hutan yang masih baik di kawasan konservasi yang aman di Jawa yang kaya akan satwa mangsa, kebutuhan home range macan tutul berkisar antara 600-800 hektar per ekor di habitat.
Namun dirinya mencatat berdasarkan penelitian di Gunung Sawal yang sudah mengalami perambahan dan terjadi penurunan luas dan kualitas habitat, pihaknya mendapatkan angka 1000 hektar per ekor, yang terus bisa terjadi penurunan populasi bahkan kepunahan jika tidak ada upaya restorasi habitat.
Untuk menjaga eksistensi macan tutul di habitat alaminya sekaligus mencegah terjadinya kasus macan tutul masuk permukiman dan berkonflik dengan manusia, Hendra mengatakan perlunya melindungi habitat-habitat macan tutul, terutama yang berada di luar kawasan konservasi, dengan menetapkannya menjadi kawasan konservasi atau kawasan yang dilindungi.
