Bandung (ANTARA) - Tim mahasiswa Universitas Padjadjaran (Unpad) menghadirkan produk tekstil berbahan dasar serat rami, yang dipamerkan pada Konvensi Sains, Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2025.

"Kami memilih rami, karena seratnya lebih kuat dari kapas dan ketersediaannya mulai meningkat di dalam negeri. Ini bisa jadi solusi untuk mengurangi ketergantungan pada kapas impor," kata Perwakilan Tim Mahasiswa Unpad, Fathia pada gelaran KSTI 2025 yang digelar di Sasana Budaya Ganesa, Bandung, Sabtu.

Tidak hanya menawarkan keunggulan dari sisi bahan, Fathia menyebutkan inovasi ini juga menekankan pentingnya proses produksi yang ramah lingkungan.

Dalam pengolahannya, kata dia, timnya menggunakan teknik pemisahan getah dan serat yang melibatkan jamur, yang dinamakan bio degumming.

Metode ini dinilai lebih ramah lingkungan dibandingkan teknik kimia konvensional yang berpotensi mencemari lingkungan.

"Kami ingin menciptakan proses yang tidak hanya menghasilkan benang berkualitas, tapi juga memperhatikan dampak lingkungan. Karena itu, kami memanfaatkan pendekatan biologis," ujarnya.

Fathia menyebutkan produk akhir dari inovasi ini, antara lain kain anti air, sepatu berbahan kain rami, hingga interior rumah tangga, seperti bantal dan pelapis kursi.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto menyoroti urgensi penguatan kapasitas teknologi dan talenta nasional sebagai fondasi transformasi menuju ekonomi berbasis pengetahuan.

Menurutnya, dengan potensi sumber daya alam strategis, Indonesia memiliki peluang besar untuk melakukan hilirisasi dan lompatan industrialisasi bernilai tambah tinggi.

"Penguasaan sains dan teknologi harus maksimal untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. Para peneliti dan akademisi memiliki tugas mulia dalam memajukan industri dan menghasilkan SDM unggul," tutur Mendiktisaintek Brian Yuliarto.



Pewarta: Sean Filo Muhamad
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026