Ia mengatakan pembangunan pariwisata harus memperhatikan karakter sosial budaya masyarakat setempat, agar tidak menimbulkan konflik atau penolakan.
Oleh karena itu, pihaknya menilai pendekatan partisipatif ini perlu dilakukan untuk menyulap kawasan tambang ilegal menjadi daerah wisata.
“Kami baru memetakan potensi secara makro. Setelah itu, kami akan berdialog dengan warga dan tokoh masyarakat agar semua pihak merasa dilibatkan dalam proses ini,” katanya.
Ia memastikan pengembangan kawasan wisata di eks tambang Argasunya bukan hanya soal menarik wisatawan, namun menciptakan ekonomi alternatif bagi masyarakat sekitar.
“Jika dikelola dengan baik, kawasan ini bisa jadi ikon wisata baru di Kota Cirebon, sekaligus mengakhiri ketergantungan warga pada aktivitas tambang yang merusak lingkungan,” ucap dia.
Pewarta: Fathnur RohmanEditor : Yuniardi Ferdinan
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.