Saat berada di Raudhah, Nugroho melaksanakan shalat dan duduk di barisan paling depan, dengan harapan bisa lebih dekat untuk melihat makam Nabi Muhammad SAW.
"Ternyata, dari Raudhah tidak bisa langsung ke makam, tapi keluar dulu. Alhamdulillah bisa melihat Makam Rasulullah juga," katanya.
Dia mengaku kerinduan dengan Rasullullah bisa terpuaskan, meskipun tidak bisa melihat langsung makam dan hanya bisa memandang dari balik pintu makam.
"Padahal saya tidak melihat makam langsung. Cuma lihat pintunya. Itu saja sudah ayem (damai). Saya bersalam kepada Rasulullah, lalu bershalawat," katanya.
Tidak hanya mengejar pahala bahwa shalat di Raudhah itu memiliki 1.000 kali lipat pahala dibanding dengan tempat lain, Nugroho berpendapat bahwa kunjungan ke Raudhah dapat menata iman kembali sepulang dari Tanah Suci.
Makki, haji dari Bekasi, mengatakan dia mengerjakan Shalat Ashar, Shalat Taubah dan banyak berdoa selama di Raudhah.
"Hati saya menjadi tenang saat di Raudhah. Cuma, saya Shalat Magrib di luar Raudhah. Saya keluar Raudhah mau ke makam Nabi Muhammad SAW, tapi belum sempat ketemu jalan, waktu keburu Magrib. Akhirnya, shalat di pelataran Masjid Nabawi," katanya.
Di masjid itu, Makki mengaku bertemu dengan banyak jamaah haji asal Indonesia, selain dari berbagai negara.
Sementara itu, Maria Assegaf, hajjah asal Semarang, mengaku tidak bisa masuk Raudhah, meski sudah mendaftar karena tidak ada jadwal saat dia datang ke Masjid Nabawi.
"Saat tiba Masjid Nabawi, saya langsung nangis. Masya Allah, saya dikasih kesempatan ke sini. Saya shalat dalam masjid. berdoa sebanyak-banyaknya. Bersyukur," katanya.
Editor : Zaenal Abidin
COPYRIGHT © ANTARA 2026