Dia antara ratusan orang di dalam Raudhah, tidak jarang meneteskan air mata dalam doa. Entah air mata kebahagiaan karena rindu kepada Rasulullah atau air mata mengingat dosa di masa lalu.

Segala doa dan curahan hati pun tercurahkan di dalam Raudhah. Karpet hijau muda nan empuk dan udara dingin menambah khusuk doa dan shalat. Ini kontras dengan udara Madinah yang saat itu panas menyengat.

Menjelang waktu Magrib, sebagian dari rombongan memutuskan keluar dari Raudhah karena hendak berziarah ke makan Nabi Muhammad SAW, sebagian tetap di Raudhah, menunggu Shalat Magrib.

Usai keluar dari Raudhah, mereka menuju lokasi makam Nabi Muhammad SAW. Beruntung, dalam waktu bersamaan ada orang berbaju seragam petugas haji dari Indonesia yang sama-sama memiliki tujuan yang sama. Mereka pun ikut antre masuk makam.

Petugas di area makam mengatur agar yang mau ziarah makam tertib. Peziarah hanya boleh melambaikan tangan saat berjalan pelan-pelan melintasi makam Nabi Muhammad SAW dan cukup mengucapkan salam atau shalawat ke arah makam. Kita tidak bisa duduk atau membaca Surat Yasin atau membaca Al Quran atau bacaan lainnya, sebagaimana ziarah makam di Indonesia.

Air mata pun berlinang. Suara menjadi tercekat dan bunyi lirih keluar manakala menyampaikan salam ke arah makam Kekasih Allah, Rasululllah Muhammad Shallallaahualaihi Wassalam.

Usai menyampaikan salam kepada Nabi Muhammad SAW, mereka juga mengucapkan salam kepada dua sahabat nabi karena letak makamnya bersebelah, yakni Abu Bakar Asshiddiq, lalu makam Umar bin Khattab.

Peziarah tidak bisa melihat langsung makam. Pemerintah Arab Saudi mendirikan dinding pembatas antara makam dengan peziarah. Lubang di dinding dibuat untuk menunjukkan letak makam.

Seorang haji asal Jakarta, Nugroho mengatakan masuk ke Masjid Nabawi bisa menjawab atas kerinduan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan pencerahan kepada manusia.



Editor : Zaenal Abidin

COPYRIGHT © ANTARA 2026