Namun, tanaman pangan, menurutnya lagi, dapat dimanfaatkan untuk energi setelah kebutuhan pangan dalam negeri tercukupi, menjadikan sektor pertanian sebagai tumpuan penting untuk ketahanan energi.

Lebih lanjut, Sudaryono menyebutkan saat ini terdapat 64 balai penelitian unggulan di bawah naungan Kementerian Pertanian.

Balai tersebut mencakup bidang pembibitan, benih, pengolahan pascapanen, hingga inseminasi, yang semuanya mendukung penguatan sistem pertanian berbasis teknologi dan inovasi.

Sudaryono juga mengakui tantangan utama B100 adalah memastikan konversi sawit ke energi tidak mengganggu pasokan kebutuhan pangan dalam negeri yang juga sangat bergantung pada komoditas ini.

Untuk itu, peningkatan produktivitas sawit per hektare menjadi kunci, melalui penggunaan bibit unggul yang diuji secara genetik di balai-balai uji milik Kementerian Pertanian.

"Singkatnya kayak balai uji DNA, yang memastikan bahwa bibit, biji yang jatuh yang mau kita bikin kecambah itu nanti akan jadi sawit yang benar. Nah itu kita cek DNA-nya, kayak semacam rapid test gitu, begitu benar maka ini yang kita kecambahkan, ini yang kita bagi ke masyarakat, bibit yang benar," beber Wamentan.

Ia juga menegaskan pentingnya program peremajaan tanaman seperti sawit, termasuk kelapa, kopi, dan kakao yang saat ini terus digenjot, karena semuanya membutuhkan kebijakan tepat, dukungan politik, dan anggaran memadai.

 


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Wamentan mengungkap potensi B100 usai uji coba di Sukabumi



Pewarta: Muhammad Harianto
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026