Darwis mengatakan defisit perdagangan dengan China, tercatat sebesar 62,14 juta dolar AS, sementara dengan Taiwan sebesar 7,01 juta dolar AS.

"Itu bisa menjadi hal yang menarik, kami berharap apakah bisa dilakukan kebijakan perdagangan yang lebih seimbang pada negara-negara yang kita masih defisit (neraca perdagangannya) seperti Tiongkok dan Taiwan," ucap dia

Selain itu, ia juga berharap pemerintah bisa membuka pasar-pasar baru produk ekspor Indonesia, seperti ke negara-negara tetangga Indonesia di Asia Tenggara.

"Sejauh ini ekspor Indonesia ke negara tetangga seperti Filipina, Thailand, Vietnam itu surplus. Kita bisa buka ke negara-negara yang secara historis dekat seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, itu bisa dilakukan untuk memperluas pasar ekspor kita," ucapnya.

Presiden AS Donald Trump pada Rabu (2/4), mengumumkan kombinasi tarif universal dan timbal balik yang akan diterapkan terhadap berbagai negara di seluruh dunia.

Trump menyatakan bahwa tarif dasar sebesar 10 persen akan dikenakan pada semua negara, sementara tarif tambahan "timbal balik" akan diberlakukan terhadap mitra dagang tertentu di antaranya kepada China sebesar 34 persen, Eropa 20 persen, Vietnam 46 persen, Taiwan 32 persen, Jepang 24 persen, dan Indonesia 32 persen.

 


Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: BPS: Efek "Tarif Trump" berpotensi ganggu ekspor Jabar

Pewarta: Ricky Prayoga
Editor : Yuniardi Ferdinan

COPYRIGHT © ANTARA 2026