Sejumlah tempat bersejarah di Kota Bandung semakin ramai dikunjungi orang belakangan ini, mulai dari mereka yang sekadar berfoto hingga yang mempelajari sejarah dengan serius.

Orang-orang berfoto mudah ditemui di Museum KAA dan Kilometer Nol di Jalan Asia Afrika, Museum Geologi di Jalan Diponegoro, Taman Makam Pahlawan, dan Jalan Braga.

Khusus di Jalan Braga serta Gedung Merdeka dan sekitarnya hampir setiap hari mulai dari pagi hingga malam dapat dijumpai orang-orang yang sedang berfoto. Apalagi setelah kawasan Gedung Merdeka dan sekitarnya dipercantik untuk keperluan peringatan Konferensi Asia Afrika, April 2015.

Kawasan itu dipercantik dengan trotoar yang rata hingga orang nyaman berjalan kaki. Di trotoar yang lebar itu juga disediakan kursi yang bisa dinikmati pejalan kaki untuk bersantai atau pun sekadar berfoto.
Gedung Merdeka yang merupakan bangunan bekas Gedung Sosialita zaman Belanda yang dipakai sebagai tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika 1955 menjadi titik pusat keramaian di sana.
Orang tidak lagi sekadar disuguhi Museum Konferensi Asia Afrika, tapi juga tempat bersantai di sekitar gedung bersejarah itu.

Begitu juga di kasawasan Braga. Kawasan itu menjadi sepenggal jalan yang juga diperbaiki secara khusus menjelang peringatan KAA. Jalan yang sebelumnya sudah menjadi incaran kegiatan berfoto itu semakin semarak oleh kunjungan orang.

Di Jalan Braga, banyak berdiri gedung tua peninggalan kolonial.

Menurut Desmond Satria Andrian, penyuka sejarah yang bergelut di bidang Publikasi Museum KAA, memang banyak cara untuk menikmati sejarah. Misalnya dengan berjalan-jalan sambil bermain, dengan cara menjadi pemandu wisata, atau dengan cara meramaikan museum.

Aleut, komunitas di Kota Bandung yang bergerak di bidang membumikan sejarah ke dalam bahasa dan kehidupan sehari-hari, juga mendukung hal tersebut. Pasalnya, menurut pegiat Aleut, mengabadikan diri melalui kamera lalu diunggah ke media sosial adalah salah satu pengapresiasian terhadap sejarah.

"Malah bagus, soalnya itu juga kan nanti akan banyak orang yang tahu, dan siapa tahu mereka yang melihat jadi tertarik ke tempat bersejarah tersebut," kata Rizki Wiriawan, pendiri Komunitas Aleut, menanggapi banyaknya orang berfoto di depan gedung bersejarah.

Selain berfoto banyak cara untuk menikmati peninggalan sejarah. Misalnya dengan cara datang, lihat, dan belajar seperti yang dilakukan oleh Komunitas Aleut.

Anggota Komunitas Aleut menikmati sejarah dengan cara "ngaleut", kata dalam bahasa Sunda yang artinya secara lusa dapat bermakna mengunjungi langsung objek bersejarah, menonton film tentang sejarah, makan sambil berdiskusi tentang sejarah.

Rizki mengakui saat ini sejarah dipandang oleh sebagian kalangan sebagai pelajaran yang menjemukan. Maka dari itu, Aleut berupaya membentuk komunitas yang mengemas sejarah dengan cara semenarik mungkin.

"Komunitas Aleut mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap hal-hal kecil yang berkaitan dengan sejarah, hal-hal yang banyak dilupakan orang," kata Rizki.

Kegiatan mereka dilakukan pada hari Minggu. Sebelumnya pada hari Kamis didiskusikan terlebih dahulu akan pergi ke mana. Dalam setiap kegiatan selalu ada pemateri yang akan memandu dan menjelaskan seputar sejarah yang akan dituju.

Selanjutnya anggota komunitas dianjurkan untuk menulis pengalaman di hari Minggu tersebut untuk kemudian diposting di blog Komunitas Aleut.


Sumber nafkah

Jika Aleut adalah komunitas nonprofit, tersebutlah Felix Feitsma (65) yang menjadikan sejarah sebagai sumber nafkah hidup.

Felix sudah menikmati hasil dari kerjanya sebagai pemandu wisata khusus sejarah.

"'Tour guide interes' kan jarang ada, kalau umum fee-nya sedikit," katanya sambil tertawa.

Saat di temui di Jalan Braga, lelaki paruh baya itu menceritakan bahwa dengan pekerjaannya itu sudah menjelahi Nusantara.

"Saya sudah berkeliling Nusantara, paling jauh dari Bandung itu ke Aceh atau Merauke," katanya.

Dari kesukaannya memperlajari sejarah, Felix telah berkeliling ke berbagai daerah untuk menamani turis.

"Waktu kunjungannya bergantung permintaan turis. Tapi biasanya paling lama dua minggu," kata Felix yang pernah menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung NHI tersebut.

Lelaki blasteran Indonesia-Belanda tersebut mengaku hanya seorang pelayanan wisata. Sebisa mungkin Felix melayani agar turis yang memakai jasanya merasa nyaman dan suka.

Felix mengatakan biasanya mereka yang memakai jasanya adalah orang-orang yang memiliki keseriusan di bidang sejarah dan memiliki referensi yang kuat. Oleh karena itu Felix juga harus memiliki referensi yang kuat untuk memandu mereka.

"Saya membaca terlebih dahulu tempat-tempat yang akan dituju, karena orang yang saya layani itu bisa jadi lebih baik referensinya. Lalu saya cocokkan tulisan dengan apa yang ada di kenyataan," kata Felix yang juga menggunakan Wikipedia sebagai salah satu referensi.

Biasanya yang dipandu oleh Felix adalah profesor, doktor, minimal S1, yang datang dari berbagai negara.

Menurut Felix, tamunya yang terjauh itu berasal dari Amerika.

Jadi mencari referensi dan mengenal lebih jauh mengenai tempat yang akan dituju adalah hal mutlak bagi Felix. Selain mempelajari arsitektur sebuah tempat, dia juga mempelajari sejarah pola makan, juga jenis makanan yang disantap di zaman kolonial.

"Dan manakala ini kurang maka saya menyertakan ahlinya. Misalnya para arsitek Indonesia yang mengetahui tentang bangunan-bangunan bersejarah." tutur Felix
Begitu juga menurut Desmond Satria Andrian, mengenal sejarah tidak cukup hanya mendatangi situs bersejarahnya saja. Karena percuma jika datang tetapi tidak mengetahui isi dan makna yang terdapat di dalamnya.

Menurut Desmond, dengan membaca sejarah masyarakat akan lebih mengetahui latar belakang bangsanya, dengan begitu biasanya mereka akan peduli terhadap sejarah. Selanjutnya rasa nasionalisme dan solidaritas kepada orang-orang yang berjuang dahulu akan tumbuh.

"Jika sejarah itu ingin tetap ada maka harus membaca dan menulis. Pada zaman dulu para pejuang-pejuang selalu membaca dan menulis agar mereka pintar dan cerdas," kata Desmond.

Mohammad Hatta merupakan contoh dari sekian banyak tokoh nasional yang suka menulis dan membaca.

"Bahkan Hatta memberikan buku hasil tulisannya di pembuangan tentang filsafat berjudul Alam Pikiran Yunani kepada Rahmi Rachim sebagai mas kawin," kata Desmond yang juga alumni Sastra Perancis Universitas Padjadjaran.

Menurut dia, kesukaan orang pada sejarah juga tidak terlepas dari faktor penarik yang dimiliki tempat bersejarah, seperti kreatifitas pengelola museum dalam menampilkan koleksinya.
Saat ini ada banyak inovasi yang dibuat oleh museum, seperti adanya beberapa komunitas yang berada di Museum KAA, sahabat geologi, atau museum keliling yang dilakukan oleh Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

Perbaikan tampilan di seputar Gedung Merdeka yang ditujukan untuk peringatan ke-60 KAA juga membuat orang dengan suka cita mengunjungi museum yang terdapat di Jalan Asia Afrika tersebut.

"Bagus ya sekarang. Keren buat foto-fotoan," kata seorang ibu yang sedang berfoto di depan Gedung Merdeka.

Oleh Siti Nuraeni Agustia


Editor : Sapto HP

COPYRIGHT © ANTARA 2026