"Acara inti KAA banyak diselenggarakan di sana, tapi orang-orang hanya tahu bila peristiwa yang terjadi 60 tahun lalu itu diadakan di Gedung Merdeka, Gedung Pakuan dan Hotel Savoy Homann," kata Rizky.
Menurut dia, gedung yang berlokasi di dekat Stasiun RRI Bandung itu dibangun tahun 1940 dalam pengawasan Technische Dienst voor Stadsgemeente Bandoeng itu dipergunakan sebagai tempat rapat sejumlah komisi penting Konferensi Asia Afrika (KAA) tahun 1955.
"Beberapa komisi yang mengadakan rapat di Gedung Dwi Warna, yakni komisi politik, komisi ekonomi, dan komisi budaya. Mereka melakukan musyawarah menentukan masa depan Asia dan Afrika," kata pria berusia 30 tahun tersebut.
Lebih lanjut dia menceritakan, Gedung Merdeka hanya menjadi tempat pembukaan dan penutupan Konferensi Asia Afrika (KAA), sedangkan Gedung Pakuan menjadi lokasi pertama di mana angklung dimainkan di depan puluhan delegasi yang hadir.
"Gedung Dwi Warna mengadung nilai sejarah yang tinggi, tapi sayang sejarah itu kurang diketahui banyak orang," katanya.
Komunitas Aleut yang menjadi tempat bernaung Rizky Wiryawan merupakan sebuah komunitas nirlaba beranggotakan kaum muda yang ingin mencintai kota melalui apresiasi sejarah dan wisata.
Berdiri sejak tahun 2006 lalu, Komunitas Aleut berupaya mengenalkan kembali sejarah kepada masyarakat melalui beragam kegiatan, seperti mengujungi objek sejarah, menonton film sejarah, berwisata kuliner, musik dan berdiskusi.***1***
Sugiharto
Editor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.