Antarajawabarat.com, 14/3 - Pengrajin perahu kayu di Desa Mekarsari Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung terus bertahan meski pesanan alat transportasi perairan itu berkurang dan krisis regenerasi.

"Dulu banyak pengrajin perahu di sini, namun sekarang tinggal saya yang bertahan," kata pengrajin perahu di Desa Mekarsari, Baleendah Harun Karundi di Bandung, Sabtu.

Ia mengklaim perahu kayu yang dioperasikan sebagai alat evakuasi di kawasan banjir Baleendah Kabupaten Bandung merupakan buatanya.

"Januari lalu, Pemda Kabupaten Bandung beli lima belas buah perahu untuk disumbangkan ke beberapa kecamatan guna dipakai sebagai alat evakuasi bagi daerah yang dilanda banjir," kata lelaki berusia 63 tahun itu.

Perahu buatan pengrajin Kampung Mekarsari tak hanya dipakai untuk evakuasi saat banjir, melainkan juga digunakan oleh para penambang pasir di sepanjang Sungai Citarum, ojek perahu hingga para penyedia jasa penyewaan perahu di beberapa danau wisata di Jawa Barat.

"Pembelinya dari berbagai daerah, seperti Cililin, Pangalengan, Sumedang, hingga Majalengka," katanya.

Bila pembeli berlokasi dekat aliran sungai, maka perahu akan ia antar dengan menyusuri aliran sungai. Namun, bila pembeli bertempat tinggal jauh, maka perahu akan diangkut menggunakan truk.

Satu unit perahu dijual seharga Rp2,5 hingga Rp14 juta tergantung ukuran. Semakin besar ukuran, maka semakin mahal pula harga perahu tersebut. Saat ini hanya tersisa dua orang pengrajin perahu, kampung ini tetap dijuluki Kampung Perahu oleh warga yang bermukim di luar Baleendah.

"Dahulu pernah ada banyak pengrajin, tapi sekarang hanya tersisa saya sendiri," katanya.

Selain di Kampung Mekarsari, tempat pembuatan perahu juga terdapat di Kampung Sindangsari yang hanya juga hanya tersisa seorang pengrajin, Salim Waslim yang kini berusia 38 tahun.

"Tempat pembuatan perahu di wilayah Bandung Selatan itu hanya di sini di Baleendah. Sedangkan di Bandung Barat tempat pembuatan perahu adanya hanya di Padalarang," katanya.

Menurut Harun, penyebab utama berkurangnya jumlah pengrajin perahu lantaran banyak pengrajin yang telah berusia senja. Selain itu, tak ada generasi muda yang berminat meneruskan jejak orang tua mereka sebagai pengrajin perahu, juga turut menjadi faktor menyusutnya kuantitas pengrajin di sana.

"Membuat perahu tak bisa dilakukan sembarang orang. Itu keahlian yang diwariskan secara turun-temurun. Seperti saya yang sekarang mewariskan ilmu itu kepada kedua anak saya," katanya.

Satu unit perahu dikerjakan antara tujuh hingga sepuluh hari. Bahan pembuatan perahu menggunakan kayu jenis surian yang dipasok dari sejumlah daerah di Kabupaten Bandung seperti Arjasari, Banjaran dan Cikalong.

Kayu jenis surian terkenal dikalangan pengrajin lantaran memiliki tekstur yang mudah dibentuk. Satu kubik kayu surian seharga Rp2,5 juta. Sebanyak 1,5 kubik kayu cukup untuk membuat tiga unit perahu tongkang.

Salah seorang pembeli, Nanang (38), mengatakan produk perahu buatan pengrajin Kampung Mekarsari dikenal memiliki kualitas yang baik.

"Waktu kecil dulu saya pernah diajak kakek beli perahu di sana. Pengrajin yang membuatnya sudah pengalaman, jadi perahunya kuat dan rapi," kata lelaki yang sehari-hari berprofesi sebagai ojek perahu di Desa Andir, Kecamatan Baleendah itu.***1***


Sugiharto


Editor : Syarif Abdullah

COPYRIGHT © ANTARA 2026