Bandung, 29/1 (ANTARA) - Kehadiran cabe impor yang masuk ke sejumlah pasar di Jakarta dan Jawa Barat hanya berpengaruh menurunkan harga di wilayah Jabodetabek.

"Cabe impor diindikasikan masuk, namun tidak banyak berpengaruh terhadap harga cabe di Jawa Barat, kecuali di kawasan Jabodetabek memang turut menurunkan harga cabe di sana," kata Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Jabar, Ferry Sofyan Arief ketika dihubungi di Bandung, Sabtu.

Menurut Arif, kehadiran cabe impor di pasar-pasar di Jawa Barat hanya berpengaruh dalam penambahan stok saja, namun tidak signifikan mempengaruhi harga di pasaran.

Selain itu kehadiran cabe itu, juga tidak mengancam harga di tingkat petani yang sebenarnya tidak terlalu tinggi. Kenaikannya tidak setinggi kenaikan di tingkat pengepul maupun di pasar.

"Kenaikan harga cabe hanya terjadi di tingkat distribusi, sedangkan di tingkat petani tidak terlalu tinggi. Kenaikan harga cabe tidak banyak menguntungkan petani," katanya.

Terkait cabe impor, kata Sofyan, khususnya cabe rawit seharusnya tidak ada barang dari luar atau ekspor. Namun saat ini indikasinya ada cabe impor di pasar-pasar induk yang memasok ke pasar tradisional.

Di lain pihak, pasokan cabe dari sentra pertanian di Jabar menurun, juga petani Jateng dan Jatim lebih fokus memenuhi permintaan di daerah masing-masing.

"Pasokan dari Jatim dan Jateng menurun dalam beberapa minggu terakhir ini, namun sekarang sudah mulai pulih. Pasokan juga sudah mulai meningkat dari petani di Bandung dan Ciamis," katanya.

Sementara itu harga cabe di tingkat pasar saat ini menurut dia masih sangat sensitif terhadap isu kenaikan. Namun rata-rata masih di kisaran Rp40.000 hingga Rp60.000. Kecuali di Bodebek yang masih di atas Rp80.000 per kilogram.

"Diharapkan masyarakat bisa menggunakan substitusi lain dari cabe, seperti cabe dalam kemasan karena harganya cukup stabil," kata Kepala Disperindag Jabar itu.

Syarif A


Editor : Irawan

COPYRIGHT © ANTARA 2026